Unit Pop Punk Manado Crushing Grief Merilis EP Terbaru Mereka!

Unit pop punk Indonesia Crushing Grief merilis EP kedua mereka yang berjudul ‘Mountains
I’ve Climbed’
pada 25 Oktober 2021. EP ini merupakan follow-up mereka dari EP mereka
‘Heart Killing Rollercoaster’ yang dirilis pada Desember 2019.

‘Mountains I’ve Climbed’ adalah bukti nyata kedewasaan dan pertumbuhan band ini sejak
berdiri pada Februari 2019. Unit heavy pop punk beranggotakan lima orang dari kota Manado,
Indonesia ini mengambil risiko untuk mendorong diri mereka sendiri secara artistik dan musik,
memadukan referensi yang luas mulai dari so-called sad boy pop punk, hardcore, hingga style
emo-alternatif yang dipopulerkan pada pertengahan 00-an. Dipengaruhi oleh band-band
seperti The Story So Far, Four Year Strong, dan Knuckle Puck, mereka juga mencoba
mendefinisikan ulang genre musik ‘easycore’ dimana mereka memainkan gaya pop punk
modern yang dicampur dengan riff hardcore dan two-step-fiesta, tetapi meninggalkan aspek
corny dari band-band easycore lainnya. Dari segi lirik berhubungan dengan pendewasaan diri
dari lagu pertama hingga lagu terakhir.


“EP ini membawa energi baru bagi band ini, dari sisi musik memasukkan banyak pengaruh
baru seperti unsur-unsur hardcore yang lebih jelas dan juga yang kerennya adalah kami bisa
berkolaborasi dengan Indhar dari Frontxside yang merupakan figur besar untuk scene
hardcore Sulawesi”

Materi untuk EP ini ditulis setelah EP debut mereka ‘Heart Killing Rollercoaster’, dalam bentuk
demo kasar yang sebelumnya tidak terpakai. Kecuali untuk lagu terakhir, yang ditulis setelah
rencana awal untuk merilis EP ini sedang dibicarakan. Setelah beberapa single ‘Lithium’ dan
‘Gemini’, band ini memutuskan untuk merilis materi-materi tersebut sebagai sebuah EP.
Band ini merekam EP ini sendiri, diproduksi dan di-engineer oleh gitaris mereka Roger dan
Matthias pada Februari 2021. Drum direkam di Rumah Musik Studio dengan bantuan Andre
Kenda sebagai drum engineer dan sisanya direkam di home studio Moshpit Records.

“Dari segi lirik, dua tahun lalu kami menulis tentang liburan dan cinta monyet. Sekarang kami
menulis tentang bagaimana kami menangani masalah hidup yang lebih besar dan lebih
dalam, seperti hubungan keluarga dan perjuangan pribadi dalam hidup.”

EP dimulai dengan ‘Daughter’, lagu yang catchy dan anthemic yang benar-benar mewakili
sound dari band ini. Paruh pertama lagu terdengar seperti lagu The Story So Far atau bahkan
era awal Title Fight, tetapi kemudian langsung bergeser ke bagian hardcore yang membuat
Anda ingin two-step. Berpindah dari part tersebut, mereka memberikan part chorus yang
catchy dan anthemic. Kemudian ditutup dengan melodic breakdown di akhir lagu. Lagu ini
tidak mengikuti gaya penulisan lagu tradisional, tapi tetap saja ini dalah contoh dari lagu
Crushing Grief yang benar-benar sempurna.

Diikuti oleh “Road Home”, sebuah lagu pop punk bertempo sedang dengan lirik tentang
merindukan rumah dari berpergian tour dan berada jauh dari pasangan. Lagu ini
menunjukkan skill vokalis mereka Alvendi dengan range yang lebih tinggi dan juga vokal
trade-off Bersama gitaris Matthias yang terinspirasi oleh band-band seperti Taking Back
Sunday. Di bagian bridge mereka menggabungkan elemen baru dari lapisan synth dan efek
delay yang sekilas mengingatkan kita pada band Angels dan Airwaves. Lagu ini juga
menampilkan guest vocal dari rekan mereka, Wini pada akhir lagu.

Akhirnya, ‘Let Go’ track terakhir\ EP ini menunjukkan perkembangan dan stylistic shift oleh
Crushing Grief. Tidak dapat disangkal bahwa chorus dari track ini catchy dan kemudian di
tengah lagu tiba-tiba berubah menjadi part hardcore dimana Indhar dari unit hardcore
Frontxside Makassar, mengeluarkan scream khasnya. Dan pada akhir chorus kedua pindah
ke part buildup yang berujung pada part ahkhir yang sangat melodis dipenuhi dengan
harmonics dari gitar dan teriakan gitaris mereka Matthias ‘Every second I’ve passed/every
mountains I’ve climbed’ menutup EP ini dengan gagah.


‘Mountains I’ve Climbed’ rilis pada 25 Oktober 2021 melalui Moshpit Records. Mixing dan
mastering oleh Muhammad Sofyan serta cover art oleh Ilham Hanifa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *