Triad indie-rock Retlehs kisahkan depresi terselubung lewat single “15:19”

Hampir setahun setelah merilis EP pertamanya Satyr’s Satire, triad indie-rock asal Jakarta Retlehs kembali dengan single terbarunya, “15:19” yang dirilis via Sinjitos Collective. Melanjutkan benang merah narasi 7 Deadly Sins, trek ini ini mewakili rasa depresi terselubung yang mendalam dan tampak di permukaan sebagai rasa malas, atau yang dikenal sebagai sloth. “15:19” menjadi fase pembuka untuk EP Satyr’s Satire kedua yang akan dirilis tahun ini beserta beberapa lagu lainnya.

Masih dengan pengaruh musik alternatif, shoegaze, dan youthful angst yang membentuk karakter unik lintas genre pada karya musiknya, Retlehs membuka bagian konklusif dari kisah Satyr’s Satire dengan eksplorasi musikal yang lebih eksperimental dan menghantam, dengan sentuhan nu gaze dan nuansa Deftones yang kental. Musik Retlehs yang kompleks tak lepas dari ragam jenis musik yang didengarkan oleh ketiga personilnya, mulai dari 70s punk rock, hip- hop groovy, ambient music hingga jazz dan bossanova. Terbuka dalam menciptakan musik bersama, baik Hara (bas), Faizu (drum), dan Anatasha (vokal) tak pernah terpaku dalam pakem-pakem tertentu dalam mengerjakan lagu, dan mengedepankan eksplorasi dalam produksi musiknya.

Judul trek yang penuh teka-teki mengambil referensi dari ayat kitab suci Alkitab, Amsal 15:19 yang bersabda tentang kemalasan. Namun, Retlehs mengambil langkah berani untuk menguak lebih dari sekadar rasa malas melalui lirik lagu ini. “Bukan hanya rasa malas dalam arti literal, namun kemalasan yang seakan muncul sebagai manifestasi dari depresi. Saat melalui depresi, kita kehilangan motivasi untuk melakukan hal sehari-hari, seperti merawat diri, memenuhi kebutuhan biologis, bahkan hanya bangun pagi. Semua berubah, sementara banyak orang hanya melihat bagian luarnya dan melabel kita sebagai pemalas,” ujar Anatasha (vokal).

Mengangkat isu yang dekat bagi ketiga personil, Retlehs bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bahwa depresi umum terjadi, namun masih banyak disangkal. Konsep kemalasan atau sloth yang menjadi pesan utama pada lagu ini melengkapi tiga dari tujuh dosa yang telah disampaikan melalui trek-trek pada EP sebelumnya — “Blue” yang mewakili dosa lust (hawa nafsu), “Kaki” mewakili dosa pride (kesombongan), St. Adella mewakili dosa envy (iri hati), sementara “Matahari” yang merupakan rangkuman implikasi dari ketiganya.

“15:19” dirilis bersama dengan sebuah video musik grungy dengan nuansa horor yang mencekam. Dibuka dengan mini-movie, video klip ini menggambarkan depresi dan rasa malas dengan simbolisasi bayangan hitam kembar yang mengekor seseorang. Memerankan sendiri video klip perdana mereka, ketiga personil Retlehs mengungkapkan bahwa trek ini adalah
salah satu karya paling pribadi yang diangkat dari kisah mereka sendiri.

Tentang Retlehs


Digawangi oleh Hariara “Hara” Hosea (bas), Faizu Salihi (drum), dan Erlinda Anatasha (vokal), Retlehs adalah unit indie-rock yang dibentuk di Jakarta pada tahun 2021. EP perdananya Satyr’s Satire, dirilis pada pertengahan tahun lalu dan telah mengumpulkan lebih dari 40,000 streams di berbagai platform streaming musik. Judul Satyr’s Satire untuk EP ini mengambil
inspirasi dari Satir, makhluk manusia setengah kambing dari mitologi Yunani yang menurut Retlehs punya tabiat buruk hingga tidak berhasil mengendalikan berbagai hasrat dan aksinya yang merugikan makhluk lain. Bagi Retlehs, “sifat-sifat binatang tidak seharusnya dilakukan oleh manusia.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *