Silaga, ekseptasi maksimal tod

Enam tahun selepas album pertama, Theory of Discoustic a.k.a tod merilis mini album baru. Terakhir kali mereka membuat mini album sepuluh tahun yang lalu, di tahun 2014.

Eksperimentasi dalam lima lagu pada album Silaga menawarkan aneka corak musik. Dari musik pop hingga menyentuh lantai dansa lontang. Selain tetap berkisah mitos dan peristiwa yang ada di Sulawesi Selatan, tod melebarkan permainan liriknya dengan mencuplik salah satu praktik budaya pop di Makassar.

Kumbala” adalah macam-macam racauan bahasa Makassar entah itu kalimat, sapaan, dan serapah
nyeleneh – remaja tanggung doyan meneriakkan ini – yang tenar di akhir 90-an dan dekade awal 2000-an. Beberapa muatan lainnya: aneka kaddokang (makanan) disambar; kaki-kaki menyusur
selatan Makassar – bekas gemilap Kerajaan Gowa-Tallo – Bongaya, Jongaya, Tamalate.

Dekade awal 2000-an jadi salah satu titik penting gemerlapnya musik pop Bugis-Makassar. Jatah repetisi
bass dan drum; kibor synth yang sesekali menyergap; sisipan ritmis gitar; serindai-vokal-minimusaha membuat “Sikajarre’” punya potensi untuk diputar di kios gerbang pasar yang menjual VCD
karaoke. Tabe’-pamopporang-salam hormat untuk (alm.) Iwan Tompo, (alm.) Anci Laricci, (alm.)
Jopie Latul, Sukaenah B, Salma Rani, Kahar HS, Ridwan Sau, dll.

tod juga enggan alpa merana sejak “Bias Bukit Harapan”. Alunan lirih-masygul dalam Maipa menyoal
kisah distopia Maipa Deapati & Datu’ Museng. Modelan cerita cinta seperti ini – tentu dengan
latar berbeda – jamak ditemukan di berbagai tempat, pada cerita Layla dan Majnun misalnya.
Trance ada pada hikayat “Tau Assanro”. Praktik yang dilakukan sanro sarat dengan kekhusyukan,
takzim, dan magis didekati oleh tod dengan melibatkan gerak musik Melayu-Makassar. “Sigere”
adalah pesta darah tahun 1855 saat La Sameggu Daeng Kalebbu memenggal dan mengarak kepala
si penjajah Baron T Collot di Segeri, Pangkep, Sulawesi Selatan. Lirikya menyusun teror berimpit
keelokan horor melalui bunyi-bunyi bengis; pekik yang tertahan mengalirkan pendar vokal yang
mencekam.

Dinamika musik Silaga nyaris mengaburkan atau melunturkan rona bahwa tod sudah pernah
merilis 1 album penuh dan 2 mini album. Silaga membuat La Marupê’, Alkisah, dan Dialog Ujung
Suar terdengar antik sekaligus klasik. Kira-kira, tidak ada salahnya jika album ini didistribusikan
di kios VCD di pasar-pasar di Makassar, juga di lontang-lontang dikemudian hari.