Negative Lovers rilis harta karun berusia sedekade

Salah satu grup yang mengusung noise pop/rock hingga psikedelia  asal Ibu Kota, Negative Lovers merilis EP Love In The Toilet di bawah naungan label La Mundi Records dengan menghadirkan pengalaman unik namun memikat.

Negative Lovers menghadirkan latar cerita yang menggugah imajinasi. Bayangkan, jatuh cinta pada seorang gembong narkoba dan kemudian merasakan dorongan adrenalin saat berusaha melarikan diri dengan mobil curian pada jam tiga pagi untuk mencapai perbatasan negara dan memulai hidup baru. Hal tersebut memberi perasaan perjalanan panjang melarikan diri, serta euforia sesaat untuk lupa sejenak dari kenyataan. 

“EP ini direkomendasikan untuk didengarkan saat bepergian melalui jalan tol antar provinsi di Indonesia,” tambah Negative Lovers.

Repetisi dan kebisingan yang menghantam telinga berulang-ulang dirancang untuk sensasi transenden dan membuka pikiran mengenai gagasan di luar batas nalar. Inilah yang membuat Love In The Toilet  lebih dari sekadar omong kosong; terdapat substansi yang kuat dan tepat pada momennya. 

Menurut Negative Lovers, mendengarkan EP ini seperti terjebak dalam adegan film karya Kenneth Anger atau menjadi salah satu pemeran utama dalam film “A Scanner Darkly” karya Richard Linklater. Dua referensi ini dengan tepat menggambarkan perjalanan musikal yang ditawarkan.

Energi Negative Lovers bersemayam pada kemampuan mereka menangkap amarah, rasa jemu dan frustasi dengan latar urban yang kental. Jika kamu menekan tombol play sambil membaca tulisan ini, yang akan kamu konsumsi adalah arsip karya yang mulai produksi sejak 13 tahun lalu oleh Negative Lovers. Enam lagu lama, plus satu single baru Love in The Toilet. Selamat, kamu sedang mendengarkan deretan harta karun dan arsip yang terpendam lebih dari satu dekade lalu.

Tidak semuanya mengerti makna kebisingan yang ditawarkan mereka. Pada periode 2009–2012, tidak jarang Negative Lovers diminta berhenti main di tengah pertunjukkan, oleh panitia atau keamanan setempat saat sedang manggung. “Dianggap berisik dan mengganggu kenyamanan publik,” ujar mereka sambil tergelak. 

Walaupun diproduksi dengan referensi lanskap musikal yang cukup jelas (seperti Velvet Underground, JMAC, Primal Scream dan seterusnya –red), pendekatan Negative Lovers bukan untuk semua orang. Tidak apa-apa. Tidak ada musik yang dibuat untuk semua jenis telinga. 

Produser visioner, Joseph Saryuf dari label Sinjitos punya peran penting dalam merealisasikan aspirasi sonik Negative Lovers untuk sampai di tingkat kebisingan yang terstruktur dan kuat. Tidaklah mudah untuk mengartikan estetika raw, stagnasi, dan amarah dalam rekaman audio yang brilian.

The lies has been mistaken for vision,” ujar mereka di single Love in The Toilet, rilisan baru yang menemani 6 lagu lainnya. Sebuah pernyataan yang relevansinya semakin nyata belakangan ini, baik itu kenyataan digital kita yang semakin memuakkan dan dunia nyata yang tidak kalah mengecewakan. Dalam kemenangan atau kekalahan, rilisan terbaru Negative Lovers jadi antidot andal untuk menjauhkan kamu sedikit dari realita. Silakan didengarkan di platform digital manapun!