Jejak religiusitas dalam musik populer

Ramadan senantiasa menghadirkan banyak cerita dan tradisi tahunan : dimulai dengan ngabuburit dan  buka puasa bersama, membangunkan sahur, bagi bagi takjil dan diakhiri mudik jelang lebaran.Segalanya jadi rutinitas yang setiap tahunnya secara kolektif dilaksanakan , tapi terkhusus Indonesia selain yang disebutkan diawal,Ramadhan dengan vibes relijius yang dibawanya ternyata tidak hanya berhasil bersinergi dengan tradisi urban, tapi juga berhasil bersinergi dengan budaya urban dimana musik pop jadi bagian penting didalamnya.

Saat Ramadan, kita sering mendengar istilah lagu “religi.” Entah siapa yang memulai terminologi itu, yang pasti lagu religi yang dimaksud disini cenderung mengerucut pada jenis lagu religi yang berbicara tentang ajaran agama, jalan kebenaran, refleksi hidup, dan ke-Tuhan-an. Tema ini begitu kuat mengakar dalam budaya urban, melintasi batas dan ruang dan waktu , dan akhirnya melahirkan sesuatu yang (paling tidak) bisa dianggap sebagai subgenre baru yaitu : musik religi populer dengan pesan pesan religi universal yang akhirnya begitu disukai oleh khalayak dan jadi playlist wajib selama ramadhan.

Dari sini kita bisa memankai musik religi populer saat ini tidak lagi sekedar menampilkan pengaruh saudara tuanya yaitu Qasidah yang banyak dipengauhi kultur Arabia, tapi ia menjadi begitu bebas diinterpretasi dalam penyajiannya : ia bisa saja disajikan dengan choir dan juga paduan vocal dan instrumental musik selain dari piano dengan syair lagu yang berisikan berbagai macam bentuk pujian terhadap keagungan Tuhan.

Metamorfosa musikal ini Pada kenyataanya, jika ditarik rentetan sejarah, tentu melalui proses yang tidak sebentar , dengan kata lain :  musik religi populer sudah sejak lama ada di Indonesia, dalam hal ini demam lagu religi bukan hal baru dalam sejarah industri musik,Koes Plus contohnya, yang sejak era 1970-an mereka aktif merilis album kasidah juga album Natal. Ini membuktikan bahwa sejak beberapa dekade lalu pasar musik bertema religi sangat menggiurkan di negeri ini, ini tentu karena kemampuannya menyentuh ruang ruang kesadaran khalayak, adalah kekuatan yang tak terbantahkan yang walaupun sifatnya temporer tapi tetap saja meninggalkan kesan mendalam.

Pasca Koesplus, Bimbo, Novia Kolopaking , dan lainnya , Untuk Indonesia sendiri, musik religi baru benar benar menemukan tempatnya sewaktu Gigi dan Opick merilis karya-karyanya. Gigi yang mengemas hits hits pop religi dalam irama pop rock ini , dan Opick yang mengemas lagu pop religinya dengan kemasan akustik- balada terbukti mampu menyita perhatian anak muda dan tanpa butuh waktu lama menjadi top hits di berbagai tongkrongan, popularitas karya mereka berdua pun menjadikan lagu lagu mereka  kerapkali dijadikan soundtrack FTV Religi yang tayang di TV.

Menyusul kesuksesan Opick dan Gigi, Berderet nama nama lainnya seperti Ungu, Ada Band, Terry dan sederet nama lain yang tiap ramadhan merilis paling tidak 1 singe pop religi yang ramai diputar di pusat perbelanjaan dan festival ramadhan di segenap penjuru Indonesia, pop religi menjadi sebuah subgenre yang berkembang dan menjadi bagian penting dari budaya populer masyarakat urban, pop religi dengan gaya pop yang ditawarkannya menjadi sebuah media penyebar pesan positif untuk anak muda yang pada umumnya menyukai bahasa bahasa ringan dan jauh dari kesan menggurui .

Paling tidak, religiusitas yang ditawarkan oleh pop religi memang sejak awal dikemas sebagai sebuah pesan yang ringkas namun padat makna : mengenai Tuhan , alam semesta dan juga  pesan positif lain sehingga tidaklah berlebihan jika terminologi lagu pop religi tentu tidak hanya bisa digunakan mengklasifikasi musik bernafaskan islam, melainkan juga pada lagu yang bersandarkan pada religiusitas agama lainnya yang mengandung pesan serupa, sebab pada kenyataannya memang kemanusiaan dan semangat kebaikan itu universal dan bebas disuarakan oleh siapapun yang peduli tentangnya : Pop religi adalah sebuah bentuk dari musik yang terbentuk dari berbagai macam bentuk ajaran agama yang punya kharisma dan makna tersendiri bagi pendengarnya.

Dengan demikian, ada baiknya kita mulai memandang pop religi, sebagai subgenre musik yang lebih luas, sebab secara substansial memang pop religi adalah milik semua ajaran agama, meskipun pada kenyataanya terminologi lagu pop religi lebih banyak digunakan untuk lagu dengan lirik religi yang dipengaruhi oleh kultur islam populer, baik sisi syair lagu maupun aransemen musikalnya, tapi tidak berarti ini jadi eksklusif, lagu pop religi dengan pengaruh lain pun tentu sah sah saja menggunakan terminologi ini, sepanjang memang relevan dan sesuai tentu tidak ada salahnya.

Pada akhirnya, pop religi hanyalah sebuah media, yang konten maupun kemasannya bisa sangat bervariasi : tergantung konteks perspektif religi dan kultur mana yang digunakan untuk mengemasnya, dan pesan pesan positif universal macam apa yang mau disampaikan komposer atau musisinya, sebagai pendengar dan penikmat musik yang perlu kita perbuat adalah menghayati jejak religiusitas dalam musik populer ini untuk kemudian kita nikmati secara kolektif di setiap waktu, tanpa perlu memikirkannya terlalu jauh, sebab kendali atas pilihan atas apa yang ingini didengarkan ada di tangan kita sebagai pendengar.

Dody Kurniawan Azman