Duo dance-pop Alien Child meluncur deras lewat “Rocket”

Tidak butuh waktu lama untuk meneguhkan duo dance-pop Alien Child sebagai salah satu musisi independen paling inovatif (sekaligus paling berkarakter) di skena musik Indonesia saat ini. Setelah meluncurkan single pembuka era baru mereka yang bertajuk “Starburst” pada bulan Maret yang lalu, duo asal Bali ini akhirnya membuka lebar tirai musikalitas terbaru mereka dengan perilisan album panjang yang diberi nama “Rocket”, yang terdiri dari 8 track ini siap dinikmati di berbagai digital streaming platform.

Dideskripsikan oleh Alien Child sebagai album “coming-of-age” mereka, “Rocket’ menghadirkan DNA musik dance-pop yang telah menjadi ciri khas mereka sejak album panjang perdana mereka, Takeoff, pada tahun 2018 silam sekaligus menghembuskan warna lain seperti hip hop, electropop, Nu-disco, R&B, dan bahkan country.

Alhasil, tidaklah berlebihan untuk menyimpulkan album “Rocket” ini sebagai materi Alien Child yang paling ambisius (sejauh ini).

“Album ini adalah sesuatu yang kami kerjakan secara perlahan, namun dengan penuh perhatian. Situasi pandemik turut mempengaruhi laju pengerjaan album ini, namun, pada akhirnya, album ini berhasil terlahir dari wawasan dan pengalaman hidup kami yang semakin bertambah,” ujar Alien Child, yang sempat mencuri perhatian masyarakat luas setelah menjadi bagian dari soundtrack film Yuni yang dirilis pada tahun 2021 silam.

Alien Child pun melirik beberapa referensi unik sebagai inspirasi untuk album terbaru mereka ini; para musisi sayap kiri seperti Tyler, The Creator, Flume, BROCKHAMPTON, dan Rosalia. Mereka pun bertekad untuk meneguhkan album ini sebagai album dance-pop yang lebih dari sekedar normatif. Elemen musik hip hop, utamanya, menjadi benang merah yang menyatukan keseluruhan produksi dari 8 track yang menyusun album ini. Tentu saja, melahirkan karya musik yang otentik sekaligus futuristik turut menjadi visi dan misi Alien Child.

“Kami sangat suka dengan bagaimana musik hip hop itu selalu menekankan kejujuran,” lanjut Alien Child. “Musik hip hop enggak pernah kehabisan cerita, dan semua cerita tersebut selalu berasal dari jiwa hip hop yang sangatlah otentik dan apa adanya. Sebagai contoh, musisi hip hop seperti BROCKHAMPTON dan lagunya yang berjudul ‘Sweet’ ternyata bisa terasa sangat menyentuh di hati. Kami pun ingin album Rocket ini bisa merangkum keseluruhan emosi tersebut: joyful, romantic, political, depressing, expressive, sekaligus emotional.”

Kebebasan berekspresi oleh kaum hawa pun menjadi tema besar yang mengayomi keseluruhan narasi di dalam album Rocket ini, menjadikan antologi musik yang satu ini sebagai materi ‘girl power’ yang masih sangatlah langka di skena musik Indonesia saat ini. Track “Superpower“, misalnya, menjadi deklarasi kemandirian Alien Child sebagai musisi yang percaya diri (“Call my name / On my way / Gonna save the day / I arrive/ They be like / ‘Ooh, she super slay!’ “). “Digital Love” seolah-olah menjadi sambutan dari Alien Child bagi para audiens musik yang penasaran dengan sepak terjang duo yang satu ini (“Well, take a seat, we’ll show you everything we got inside / It’s a new age, it’s a new way, a different era, watch out for it, mayday!”).

Sementara itu, “Sour Lemonade” mematahkan klise balada romansa dengan menjadikan sang tokoh wanita sebagai anti-hero dalam cerita (“You’re all that I want / But you’re not what I need / You’re sweet in my mouth / But you’re bad for my teeth”). Lagu “Come Back“, yang turut melibatkan paduan suara persembahan Heny Janawati Vocal Expert, menampilkan sisi yang lebih rapuh dari Alien Child seraya mereka mengambil inspirasi dari balada musik country. (“Wish I could hold me and wipe off my tears / ‘Cause no one else can make me heal”)

“Bahkan sebelum kami resmi menjadi Alien Child, kami selalu menggelorakan semangat feminisme. Kami sadar akan realita menjadi seorang wanita sejak kami masih kanak-kanak,” tutur Alien Child. “Akan tetapi, untuk album Rocket ini, kami ingin
pesan feminisme dan female empowerment tersebut dikemas secara fun dan enjoyable tanpa memandang jenis kelamin pendengar musik kami nantinya.”

Pada akhirnya, rencana besar pun menanti Alien Child setelah perilisan album terbaru mereka. Press conference album Rocket ini telah diselenggarakan pada hari Kamis, 1 Juni 2023 di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Bali. Selain itu, duo yang digawangi oleh pasangan saudari Lala Maranda dan Aya Maranda ini akan bertolak ke Kanada untuk melanjutkan pendidikan mereka. Namun jangan salah: Alien Child akan terus berkarya, di mana pun mereka berada.

“Ibaratnya, kami pindah dapur, tapi kami bakal terus ‘memasak’ karya kami,” celoteh Alien Child. “Kami sudah bukan lagi musisi remaja. Kami sudah beranjak dewasa, dan itu artinya, sudah saatnya bagi kami untuk semakin serius dengan karir bermusik kami. Perbedaan waktu dan jarak tidak akan menghentikan langkah kami. Justru sebaliknya: perjalanan dan petualangan Alien Child baru saja dimulai.”

Tentang Alien Child

“Menciptakan warna orisinil tanpa meniru karakter orang lain” telah menjadi motto Alien Child sejak mereka pertama kali menorehkan langkah pertama di industri musik Indonesia pada tahun 2018 dengan album perdana yang bertajuk Takeoff.

Duo asal Bali ini terdiri dari pasangan saudari Lala Maranda dan Aya Maranda, yang mana keduanya berperan sebagai vokalis, songwriter, produser dan instrumentalist. Talenta mereka dalam menyuguhkan sajian electropop yang modern namun relatable telah terbukti dengan karya-karya unik seperti “No Trust, No Pain” dan EP bertajuk Euphoria yang dirilis pada tahun 2020. Tidak berhenti sampai di situ – karya-karya beraliran alternatif seperti “Imajinasi Senja” dan “Lonely Holiday” turut menyiratkan potensi Alien Child sebagai duo musisi dengan jangkauan genre yang ekspansif. Selanjutnya seperti yang disebut diatas, Alien Child berkarya secara independen, dengan album panjang terbaru mereka, Rocket.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *