Diantara gemuruh kota dan bisingnya nada

Liverpool, melahirkan The Beatles

Seattle melahirkan Nirvana

Ini bukti bahwa , Musik dan Kota telah menjalin kelindan yang erat sejak lama..

dan makin lama makin kuat….saling berkelindan , dan saling berkontribusi 

Suatu hari, setelah waktu Isya, Sebuah pelataran parkir di salah satu café di kota makassar tampak mulai disesaki penonton yang rata rata adalah anak muda belasan tahun , dibadannya mereka mengenakan atribut band kesukaannya yang didominasi dengan warna hitam, mereka hari itu akan menonton band band kesayangannya perform membawakan lagu lagunya, dari suasana yang ada mudah sekali tertebak kalau panggung malam ini merupakan panggung yang diinsisasi secara kolektif oleh para inisiatornya.

Acara berlangsung hingga  lewat puku 10 malam, band band dengan style musik yang beragam itu mulai unjuk kebolehan, bergantian mereka perform dengan membawakan lagu karya mereka masing masing suasananya begitu riuh, semua yang hadir menikmati pertunjukan dengan antusias dan bahagia, walaupun dengan tempat yang sederhana dan sound system yang jauh dari megah dan proper, tapi semangat dan apresiasi terasa begitu kuat malam itu . 

Ini cuma salah satu ilustrasi dari riuhnya panggung kolektif yang digelar di banyak tempat di kota makassar . Pasca pandemi,nyaris  setiap akhir pekan panggung panggung kolektif Ini digelar dengan dan tanpa sponsor hanya bermodal semangat berkarya dan bermusik dibalut kolektifitas yang dibangun bersama , panggung ini menjelma menjadi sebuah magnet yang menggaet pecinta musik untuk datang menghabiskan malam minggunya. 

Ini menjadi sebuah bukti, betapa musik memang masih menjadi bagian penting dari budaya populer anak muda urban (selain game online dan isu mental health tentunya), bahkan sejak dua dekade silam Musik dan segenap aktivitas yang melingkupinya menjadi sebuah bagian dari geliat industri kreatif yang pada realitasnya memberikan sumbangan yang tidak sedikit baik dari sisi ekonomi, maupun sosiokreatif terhadap perkembangan kota : bagaimana kemudian ambon dengan label kota musik misalnya, menjadi begitu ikonik. Begitu banyaknya penyanyi dan pencipta lagu yang dilahirkan di kota ini, sebut saja Glenn Fredly, Bob Tutupoly, Harvey Malaiholo, Utha Likumahua, dan sederet nama lainnya. Orang Indonesia pada umumnya sudah tidak asing dengan musisi berdarah Ambon, bahkan orang Ambon merasa musik sudah menjadi bagian dari hidupnya, Walaupu Ambon baru dilabeli kota kreatif musik dan kuliner di tahun 2017 versi Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) dan ditetapkan sebagai kota musik dunia versi UNESCO lewat evaluasi dokumen dan kunjungan lapangan di tahun 2019, tapi bukti bahwa kota ini memang produktif menghasilkan musisi dan lagu hits yang tak lekang waktu .

Sejalan dengan Ambon, Bandung dan jogja juga menjadi sebuah titik penting dari geliat permusikan, terutama dari skena independen. Bandung dengan semua yang dimilikinya seolah menjadi sebuah kota yang tak henti menghasilkan band dan musisi yang mewarnai skena musik , bergandengan dengan jogja yang juga melakukan hal yang sama dari waktu ke waktu hingga sekarang. 

Geliat ini juga kemudian menyebar dibanyak tempat, walaupun tak bisa dimaknai keseluruhan tapi paling tidak semangat berkarya ini kemudian menyebar ke segala arah, melahirkan banyak pergerakan serupa, yang pada muaranya kemudian menjadi warna tersendiri yang memperkaya panggung panggung permusikan dinegeri ini , sampai hari ini para band dan musisi independent ini masih terus menjalani aktivitas berkarya, dengan atau tanpa dukungan dari siapapun . 

Tapi tunggu sebentar, kita tidak sedang membicarakan gambaran sejarah panggung panggung musik di negeri ini, saya ingin mengajak kita semua memandang lebih jauh daripada sekedar sejarah itu, saya ingin kita mendiskusikan bagaimana kemungkinan lain, bahwa dibalik gemuruh panggung dan riuhnya kota dimana ekosistem musik terbentuk secara alamiah, ternyata searah dengan ketersediaan ruang ekspresi dan juga apresiasi bagi karya mereka, pun dengan kesadaran para stakeholder yang memang belum sepenuhnya menyadari bahwa musisi dan karyanya selayaknya mendapatkan tempat yang tidak sekedar jadi “barisan hore hore” pengumpul massa, tapi atas jerih payahnya berkarya merekapun layak mendapatkan apresiasi yang tak ternilai. 

Padahal, semua karya ada pendengarnya, semua genre ada peminatnya, dan semua lagu ada pendengarnya, dan rasanya tidak begitu perlu melakukan klasifikasi terhadap band band atau musisi kita dengan standar yang berlebihan yang kemudian hanya melahirkan asumsi , bahwa band band yang jadi langganan pensi atau event music festival adalah band band yang punya fanbase yang besar dan mendatangkan massa saja, pun panggung bukanlah inti dari segalanya, tapi tetap saja ia menjadi sesuatu yang berguna untuk menjembatani musisi dan karyanya untuk di apresiasi publik pendengarnya. 

Inilah kemungkinan yang ingin saya diskusikan : bahwa dengan semua yang berkembang sejak pandemi usai , tentu ada baiknya kita mulai menelisik segala rupa urusan tentang musik dan musisi ini, bahwa seharusnya persoalan persoalaan terkait karya, distribusi, dan apresiasi terhadapnya ini jadi sesuatu yang serius dan perlu menjadi perhatian,terlebih jika kita bicara dari perspektif kota yang berkembang dan punya infrastruktur yang lengkap : sungguh timpang ketika sebuah kota dengan semua gemerlapnya tidak mampu menghargai karya karya dari musisinya sendiri : izin untuk panggung kolektif , merupakan sebuah anugerah tak terkira untuk pelaku industri musik , terlebih di masa covid 19 merajalela dimana mana. 

Pasca pandemi, Berbagai upaya pun dilakukan, termasuk dengan melembagakan profesi musisi yang di sertifikasi layaknya profesi lainnya. Agar musisi dan apapun yang dihasilkannya lewat keterampilannya dapat lebih bernilai , tentu disini lebih luas lagi makna dan pengaplikasiannya : tidak hanya tepukan tangan gemuruh, tapi juga asap dapur mereka yang mesti terus membubung tinggi, yang artinya , asap dapur membubung, karya merekapun dibuat melambung ke angkasa 

Membutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah kota dan berbagai aktor para pihak untuk dapat bersama-sama membangun dan mempertahankan apa yang sudah ada, sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab untuk mendorong bertumbuhnya ekosisistem berkesenian yang sehat. Pun, dukungan ini mesti menyeluruh dan tidak terbatas pada subkutltur tertentu : semua punya potensi dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi terhadap kotanya, yang tentu saja punya dampak besar untuk perkembangan industri kreatif di kotanya masing masing. 

Pada akhirnya kelindan antara para pelaku industri mesti digiring agar saling memahami bargaining positioningnya masing masing termasuk peran mereka dalam skena. Kesemuanya akan terus saling berkelindan dan bergantung, kesuksesan industri dan ekosistem saat ini  bergantung pada kolaborasi stakeholder dan para pelaku yang ada didalamnya, termasuk pada aspek bagaimana dukungan moril materiil untuk para pelaku, bukan hanya berakhir pada ruang birokrasi  dalam bentuk lip service. Dilain sisi pelaku industri pun dituntut selalu berinovasi, panggung megah dan sound system menggelegar tidak cukup. Ada yang jauh lebih esensial dan substansial yaitu pada upaya bagaimana semua yang disajikan meninggalkan kesan dalam benak untuk para penonton, agar musisi tidak kemudian hanya menjadi “barisan hore hore”, namun dapat  menjelma jadi sebuah kekuatan yang turut membangun industri  kreatif dimasa depan… semoga 

D.K.A (Dody Kurniawan Asman)