Cover Depan

Artwork atau cover depan dari album atau single musik dibuat untuk menandai tema dari musik yang dimainkan atau cona disuguhkan oleh sang artis/band itu sendiri. Artwork juga dibuat biasanya semenarik mungkin dengan latar belakang atau foto yang dominana, warna, bentuk atau materi lainnya yang dengan pertimbangan artistik sengaja dibuat untuk menarik perhatian (awalnya) dan kemudian, di langkah berikutnya, menarik calon pembeli untuk mengeluarkan sejumlah dana untuk menebusnya dari etalase dan kemudian menikmatinya di rumah, mobil atau dimana saja.

Nah, di masa masa terkini, dimana rilisan fisik sudah bukan lagi hal yang menarik bagi sebagian orang, masihkah tindakan seni yang menarik itu membuat lagu atau single yang disuguhkan menjadi terwakili? Atau dengan bahasa lain, artwork menandakan bagus atau berkualitasnya sebuah album atau single?

Masing-masing dari kita bisa jadi punya jawaban yang berbeda-beda sesuai dari sisi mana kita memaknainya. Kemajuan technologi malah memberi ruang luas bagi siapa saja untuk mencipta artwork ala saja. Terkadang malah hanya berula sajian satu warna, atau serangkaian kata atau segaris warna dan atau kumpulan titik misalnya.

Designer-designer baru dengan bekal ilmu dan keterampilan berbeda-beda dengan senjata beraneka ragam juga bentuknya mulai menjajakan hasil olah rasa mereka. Suguhan artwork bisa berasal dari sebuah foto saja, atau gambar sederhana saja, kemudian diolah lagi setelah mendapat restu untuk melakukannya, terkadang malah dalam hitungan beberapa menit saja artwork siap untuk dijajakan ke publik luas. Hasilnya baik? artistik? atau malah kontrobersial? nah ini terkadang si empunya karya lagu atau album malah tidak merisaukannya, apalagi jika materi lagu atau album tersebut dibuat dan diedarkan secara independen tanpa tergantung dengan pihak label atau distributor atau agency yang pastinya punya hitungan matematis yang lebih kongkret dan mengikat.

Kalian mungkin masih ingat, design artwork ‘asli’ dari album multi laris milik band kebanggaan Amerika Guns n Roses yang memuat gambar kartun seorang perempuan yang (maaf) diper…sa alien, atau album America milik The Black Crowes yang menyajikan gambar gstring motif bendera negaranya lengkap atau mungkin ingat dengan cover album asli Marilyn Manson yang Holy Wood in the Shadow?

Contoh-contoh artwork album itu kemudian diganti dengan attwork yang ‘lebih sopan’ dan lebih punya tanggung jawab moril seperti yang akhirnya kita tau dan beli dan koleksi sampai sekarang.

Di Indonesa pun juga banyak menelurkan materi artwork yang hebat. Beberapa malah menurut saya terhitung lebih mendunia dibanding banyak artwork musisi internasional. 

Menilik kebelakang kita harusnya masih ingat bagaimana materi cover album Laskar Cinta milik Dewa 19 yang menurut banyak orang adalah kaligrafi Islam yang ‘diselewengkan’ dan menjadi kabur maknanya atau album Dewa 19 Cintailah Cinta yang memuat gambar 1 mata yang identik dengan dajjal, atau album Manusia Setengah Dewa milik Iwan Fals yang dikritik ormas Hindu, juga album Virus milik Slank yang menampilkan gambar perempuan nyaris telanjang dengan tulisan Virus di bagian pusernya.

Semua karya artwork diatas adalah milik band papan atas Indonesia yang pastinya dilepas bukan tanpa pertimbangan yang baik, matang belum tentu, sekedar baik saja, atau… jangan-jangan sengaja dibuat untuk menuai protes? Ingat bahwa terkadang bad news is good news, hal-hal yang buruk adalah yang ‘ternyata’ baik, karena makin beroleh penolakan dan menimbulkan banyak gejolak serta pertimbangan, bukannya barang tersebut makin dicari orang karena ‘nilai’nya tersebut? 

Dari musik sebelah, dangdut adalah (bisa jadi) warna musik yang sebenarnya paling banyak berpotensi menuai kontroversi. Jiak musik dangdut dinyanyikan tanpa goyangan yang hot, unsur dangdutnya timpang disana sini. Demikian juga dengan artwork album atau singlenya yang banyak memajang bentuk tubuh sintal sang penyanyi, namun yang perlu diingat, cover album musisi dangdut terhitung tidak banyak menuai pembicaraan, mungkin karena gaya dan designnya yang cenderung monoton, paling banyak hanya menampilkan unsur fisik penyanyi atau pemiliknya. Sementara itu baru saja saya posting di ig story saya, artwork penyanyi dangdut belia Cita Citata yang ok, keren dan sangat kekinian, tak ada visual body yang sintal disana hehe

Beberapa waktu lalu, seorang musisi bernama Ben Sihombing merilis lagu baru berjudul Wajah Cerita dengan artwork yang menantang. Saya yakin untuk beberapa waktu kedepan artwork ini akan banyak dibicarakan. Atas nama seni dan keindahan, atau tata krama dan kesopanan? Adat istiadat dan konsep mendidik atau tidak, yang jelas, kita masing-masing punya kacamata dan sudut pandang beda-beda, yang menandakan bahwa kita adalah bangsa yang besar. Hitungan-hitungan pasti telah tersaji sebelumnya oleh pemilik karya, maksud dan tujuan utama hanya mereka yang bisa menegaskannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *