Cerita Cerita Isu Sosial Dalam “Ruang” Ala Tashoora

Menutup tahun 2018 kemarin, Juni Records berkolaborasi untuk menelurkan karya musik berkualitas. Kali ini, Degup Detak Records asal Yogyakarta adalah partner yang berkolaborasi dengan Juni Records, dengan merilis karya pertama dari band bernama Tashoora.

Tashoora, band asal Yogyakarta yang beranggotakan 6 personil, yaitu Danang (vokal/gitar), Dita (akordeon/keyboard/vokal), Gusti (bass/vokal), Sasi (gitar/vokal), Danu (biola/vokal), dan Mahesa (drum), menghadirkan mini album pertama mereka bertajuk “Ruang”, di hari Jumat tanggal 14 Desember 2018 silam.

Nama band ini diambil dari studio musik tempat mereka biasa berkumpul, yang berlokasi di Jl. Tasura. Band ini pun sudah berdiri sejak September 2016 silam, namun mereka menghabiskan kurang lebih 1 tahun pertamanya di dalam studio. 

“Memang tidak dikejar apa-apa, dengan tenang menikmati proses membuat lagu, membicarakan lirik, bongkar pasang aransemen atau sekedar kumpul-kumpul saja, latihan biasanya,” ujar Danu.

Selanjutnya adalah cerita berbeda. Setelah panggung pertama mereka, Tashoora terus konsisten memperkenalkan musiknya ke khalayak ramai melalui beragam panggung di sekitaran Yogyakarta, dan beberapa di luar Yogyakarta. 

Di bulan Oktober 2018 silam, Tashoora pun berani untuk menggelar private showcase mereka. Gelaran ini diberi nama “Ruang Pertama Tatap Muka”, dan mengambil tempat di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Yogyakarta. Aksi mereka di showcase inilah yang akhirnya diwujudkan menjadi mini album pertama Tashoora, “Ruang”.

“Awalnya kami mau merekam mini album ini secara live di studio, mengundang 15-20 orang untuk menyaksikan prosesnya, tapi setelah kami bicarakan dengan tim produksi Tashoora, idenya justru berkembang,” cerita Gusti.

“Alih-alih meringkuk di studio rekaman, kami ingin menikmati proses rekam suara bercampur panas peluh keringat manusia, mencoba untuk menukar dinding ruang biasa dengan tatap muka,” tambah Danang.

Tatap, Terang, Ruang, Sabdadan Nistaadalah 5 lagu yang ada di mini album tersebut, Tashoora banyak bercerita tentang situasi sosial yang banyak terjadi di Yogyakarta. Mulai dari cerita tentang kasus penistaan agama, isu LGBTQ, isu agama yang kerap dimanfaatkan oleh para penguasa, hingga cerita tentang masih adanya kebijakan pemerintah Yogyakarta yang menggunakan label pribumi dan non-pribumi.

“Banyak dari hal-hal ini yang kita diamkan di sudut mata, terlihat tapi dianggap tidak ada,” jelas Danang.  

“Sabda”akan menjadi single pertama dari mini album “Ruang”.Lagu ini berawal dari kasus sosial berlatar belakang hal cukup rasis yang terjadi di Yogyakarta. Berawal dari Danang yang mendapati ada label pribumi dan non-pribumi di salah satu kebijakan pemerintah daerah Yogyakarta. 

Danang dan Gusti sempat ingin membahas kebijakan tersebut dengan orang-orang terkait, namun merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Mereka pun akhirnya menuangkan perasaan mereka ke dalam barisan lirik lagu “Sabda”. 

Degup Detak Records bekerja sama dengan Juni Records dan Nadarama Recording untuk merilis mini album “Ruang”, yang akan dihadirkan dalam bentuk CD dan di digital music platform, Desember silam. Selain bisa dinikmati di digital music platform seperti Spotify, Apple Music, Deezer dan lainnya, deretan lagu di dalam “Ruang” juga akan dihadirkan dalam bentuk video live performance di YouTube channel resmi mereka, Tashoora. Video-video tersebut dihadirkan dalam periode mingguan, untuk kelima lagu yang terdapat di “Ruang”. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *